Wednesday, August 10, 2016

VIDEO PROFIL DESA BUDDAN #KKNUTM2016

VIDEO PROFIL DESA BUDDAN #KKNUTM2016

Sunday, August 7, 2016

Fasilitas

PELAYANAN ATAU FASILITAS DESA BUDDAN

A.PENDIDIKAN
Pendidikan merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan seseorang untuk memperoleh pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari.  Kita bisa memperoleh pendidikan melalui sekolah , les , diskusi, ceramah dan lain lain.
         Tingkat pendidikan bagi masyarakat Buddan sudah bisa dikatakan cukup baik karena tingkat buta aksara bagi mereka sangat minim. Hanya orang-orang tua saja yang tidak bisa membaca dan mengerti aksara. Bagi warga masyarakat Buddan yang mengetahui dan mengerti aksara, umumnya mereka memperoleh pendidikan melalui beberapa instansi yang tersedia di desa Buddan ini seperti :
  1. TK
  2. SDN BUDDAN I
  3. SDN BUDDAN II
  4. MADRASAH DINIYAH AT-TAUHID


B.MASJID
           Masjid pertama di buddan yang sekarang di sebut masjid At-Tauhid,sebelumnya sudah di renovasi empat kali terakhir pada tahun 2001 dan selesai pada tahun 2003.


           

C.KESEHATAN
           Lailatus Syarifah adalah sosok bidan yang begitu berpengaruh di Desa Buddan, dia merupakan satu-satunya bidan di Desa ini. Beliau bertugas di Desa ini selama 6 tahun.
         Kesadaran akan pentingnya kesehatan sudah tertanam dengan baik di Desa ini, hal ini terbukti dengan banyaknya warga yang antusisa mengikuti aktivitas yang diselenggarakan oleh bidan, diantaranya Posyandu Balita, Posyandu Lansia, Imunisasi TK-SD, Pemantauan gizi balita, Pemberian PMT.
       Seiring dengan bergesernya kebiasaan melahirkan dengan bantuan dukun. Bidan Laila juga dipercaya untuk membantu proses persalinan jika ada warga yang melahirkan. karena kesadaran warga akan pentingnya keselamatan ibu dan bayi. Penyakit yang sering menjangkit warga yakni penyakit ISPA (infeksi saluran pernafasan akut)dan Demam, “ujar ibu bidan.
       Tidak terdapat alokasi dana dari desa untuk semua kegiatan POSKESDES, akan tetapi dana berasal dari swadaya warga.

Monday, August 1, 2016

Sejarah Desa Buddan

Sejarah Desa Buddan

            Terdapat beberapa versi tentang asal-usul desa Buddan, dikarenakan pada zaman dahulu para sesepuh yang memberikan nama pada sebuah desa yang berada di daerah Madura barat tepatnya di bangkalan hanya di ucapakan dari mulut ke mulut dengan kesepakatan mereka bersama. Tanpa ada sebuah tulisan tentang sejara desa yang benar-benar benar atau valid.

            Menurut Bapak Makmur, selaku kepala desa di desa Buddan. Kec. Tanah Mera, Kab. Bangkalan. Baliau mengatakan secara singkat bahwa asal mula dibentuknya desa Buddan dikarenakan pada zaman dahulu akan ada sebuah peperangan di kawasan desa ini,  kemudian seorag ratu keluar dari kumpulan para peperangan tersebut, dimana ratu tersebut keluar dengan berdandan dan dengan berpakaian bagus. Hal itu membuat para prajurit peperangan terpesona dengan kecantikan si ratu tersebut. Sehinga di angkatlah sebuah nama “Buddan” dari kata “dandan”.

            Sedangkan menurut pak Masdali selaku salah satu tokoh masyrakat Buddan. Dia menjelaskan bahwa dulu kala kawasan desa ini ditempati oleh orang- orang yang beragama budha diman mereka berada dibagian utara desa (daerah yang berdataran tinggi dimana mereka hidup secara terpisah dengan ada batas dari masyarakat lainnya). Konon katanya, orang dulu dikenal sebagai orang yang sakti, orang yang punya kemampuan luar biasa diatas rata - rata manusia biasa. Begitu pula masyarakat buddha tersebut hidup dalam suasasa seperti itu. Kepercayaan mereka hanya kepada orang sakti. Warga masyarakatpun pada waktu itu sangat patuh pada satu orang sakti bahkan mereka menjadi pengikut orang sakti tersebut. Selama itu tidak ada satu orangpun yang bisa  mengalahkan mereka, sehingga tempat tersebut disebut dengan buddan yang mensimbolitaskan tempat orang- orang Budda.

            Menurut uraian diatas, kita dapat mengetahui asal mula desa Buddan dengan dua versi tersebut, tanpa adanya sebuah deskriminasi terhadap kedua versi tersebut. Hal itu terjadi karena sampai saat ini, asal mula desa Buddan hanya dituturkan dari mulut ke mulut oleh seorang narasumber (sesepuh atau tokoh masyarat).